September 2009

The Journeys. Itu konsep yang gue ambil buat foto prewed gue sama Rizal. Sebenernya buat gampangnya sih ambil aja tema casual, alam, modern, chic, tempo dulu, klasik, warna, atau urban sekalian. Tapi gue pengen ada storynya, niat banget gue sampai bikin plot cerita. Boleh dibilang gue orang yang ribet, dikit-dikit harus pake story, tapi itu kan gimana selera ya? Gue Cuma pengen nunjukin that’s our signature di foto-foto prewed gue sama Rizal.

Gue sama Rizal itu berbanding 180 derajat. Walaupun sama-sama suka Arsitektur, kita beda visi misi, hihihi kayak sekolahan aja pake visi misi. Tapi serius, walau gue orang masa kini, tapi gue suka sesuatu yang klasik dan berbau sejarah. Bisa dilihat dari bangunan favorite gue, yaitu karya-karya Gaudi, dan kota-kota tua di Eropa. Mungkin satu-satunya bangunan semi modern yang gue suka adalah Museum Louvre, Paris. Kalau Rizal, dia suka banget yang berbau urban, high-tech, dan modern. Dari situ awalnya gue dapet ide soal konsep prewed.

Awalnya gue menggambarkan suatu hubungan itu butuh destinations, sebelum nyampe kita butuh journeys, iya gak? Tapi apa pun tujuan kita, ujung-ujungnya kita melewati sebuah perjalanan. Dari yang berliku-liku, penuh kerikil, bercabang, sampai mulus kayak jalan tol. Tapi gue males aja gitu menganalogikannya kalau berbentuk jalan. Masa iya musti foto di jalan tol, plus bawa koper? Hihihi, lucu juga sih, tapi gak kebayang repotnya pindah-pindah jalan. Akhirnya gue menyatukan sisi jadulnya gue dan modernnya Rizal. Tempat transportasi. Modern-Tempo Dulu.

Bandara Soekarno Hatta – Pelabuhan Sunda Kelapa – Stadhuisplein – Stasiun Kota – Transjakarta. Itu tempat yang kami pilih. Kenapa sih semuanya di Jakarta? Ya itu dia, ada pelabuhannya, kalau di Bandung? Masa iya di pinggir sungai Citarum? Kalau lihat peta Jakarta, semuanya dalam satu garis lurus, kecuali Bandara. Gue terinspirasi dari buku Rahasia Meede – E.S. Ito, tempat-tempat yang indah bukan? sayangnya gak sebagus di zamannya.

Berhubung foto di Jakarta. Gue dimake-up dari jam empat subuh, biar jam enam pagi udah meluncur ke Bandara, first journey. kita berencana foto satu hari full, dari pagi sampai malam. Belum kebayang capeknya kayaknya apaan, gue sih mikirnya enjoy aja. Persiapannya sih udah pasti ribet bin riweuh. Dari kostum dan property apa saja yang mau kita pakai. Rencananya gue mau pakai baju Noni Belanda, Cuma sewanya itu boooo, mahal banget! Akhirnya gue cuma sewa topi dan payung saja, selebihnya dari semua koleksi baju gue. Kasian amat, hihihi..mepettt bo dananya.

Pemotretan di Bandara kita ambil tema urban. Gue suka dengan situasinya yang rame dan penuh orang, kalau enggak salah emang lagi deket-deket orang mau mudik lebaran deh, Bandara jadi penuh, dan itu sisi positifnya. Urbannya dapet banget. Gue sama Rizal pakai baju casual saja, ngejeans dan pakai baju putih-putih sama abu-abu. Gak lupa kacamata hitam dan koper-koper. Tadinya mau dibikin film, Cuma gak sempet bikin cerita, lagian waktunya mepet. Sedih sih, tapi emang gak ada waktu lagi. Gue nih banyak maunya.

Second journey, Sunda Kelapa. Kita pas nyampe sana hampir jam dua belas siang, kebayang gak teriknya kayak apa? Gue rasa matahari membelah dirinya kayak amoeba sampai berkali-kali lipat, panasnya gak santai. Karena terpengaruh sejarah, gue pikir pasti Pelabuhannya keren bin kuno. Ahhh, ternyata lagi dibangun, banyak pasir dan debu. Kapal-kapalnya sih bagus, Cuma banyak jemuran. Kecewa? Lumayan..dalam bayangan gue, di sana bisa naik perahu kecil dengan gaya tempo dulu. Gue sengaja pakai tshirt biru plus kain lilit hitam, serba etnik, sandalnya pun mirip orang Majapahit. Tapi itu semua hanya mimpi L. Saking panasnya, mata gue gak bisa dibuka, sipit banget, dan debunya gak banget, bikin pedih mata. Akhirnya kita foto cepet-cepet. Banyak angle yang gagal karena mata yang sipit dan keringet yang menetes. Harusnya gue ke sini sore-sore. Tapi boro-boro mau naik perahu, airnya itu hitam legam dan bau. Ini pelabuhan yang dulu dibangga-bangga kan? Kalau suka baca sejarah dijamin kecewa berat liat situasinya sekarang L.

Third journey. Stadhuisplein, Museum Jakarta. Sumpah gue cinta mati sama tempat ini. Kadang gue berharap, gue hidup di zaman dulu, bisa menikmati indahnya tempat ini. Saking isengnya gue pernah muterin Stadhuisplein sendirian, bagi gue tempat ini sangat berharga nilai historynya. Dan gue ingin menikmatinya sendiri, walau sempet dikejar-kejar sama orang gila. Btw, kok gue malah melantur. Back to topic. Di sini gue sama Rizal pakai dua kostum. Satu gue pake mini dress putih plus topi biar kayak Noni Belanda, Rizal juga sama pakai topi. Kita pakai sepeda, lucu dan seru. Stadhuisplein lagi rame dan penuh banget, kita malah jadi objek difoto juga deh. Setelah seru-seruan sama sepeda, gue ganti baju pakai kebaya broken white dan Rizal pakai jas. Aduuhh, gue paling suka dia pakai jas, ganteng banget. Anyway, ini foto yang paling gue suka. Jendela-jendela lebar, payung putih lebar, itu hasilnya klasik banget. Seperti sebuah perjalanan, gue dan Rizal melintasi waktu. Masa lalu dan sekarang.

Fourth journey. Stasiun Kota. kenapa sih gak Gambir? Balik lagi, gue pengen ngambil sesuatu yang kuno. Tadinya mau foto di rel, tapi kereta lagi penuh L, ehh kalo dipikir-pikir ini banyak gue yang pengen dehh. Hah, menyebalkan. Jadinya di gerbong dan koridor aja. Situasinya ramai, jadi tontonan lagi deh. Harusnya difoto pas lagi jam-jam sepi ya? keindahan bangunannya pasti dapet banget. Btw, sebenernya gue mau foto prewed, atau foto arsitekturnya sih? Hehehe…

Fifth journey. Transjakarta. Kita foto ini pas malam. Kebayang gak bagusnya Jakarta kalau malam? Ini sisi modernnya, berharap difoto terlihat lagi di MRT Singapore atau Jepang, hihihi mimpi kali ye? Di sini casual lagi, gue pakai putih abu, Rizal biru abu. Gue suka foto ini, kesannya desak-desakan, dan falling in love di sini, hihihi. Untung lagi kosong, jadi asyik banget foto-fotonya. tadinya mau maksain foto di Bunderan HI, apa daya gak ada gaun L. Haduuhhh, kalau jadi foto, gue kasih taglinenya “The City of Blindings Light”. Gue udah kayak Maid In Manhattan tuh gayanya, hahahaha.

Intinya sih gue gak suka foto yang dibuat-buat. Foto gue dan Rizal banyak yang candid. NO, banget kalo harus ada adegan pandang-pandangan, peluk-pelukan, itu norak banget dan gak alami. Hasilnya jadi kaku dan keliatan banget foto prewed. Gue yakin sih, gue bakal ketawa ngakak tiap foto harus saling memandang, NAY banget lah! Merit kan sekali seumur hidup ya? Maunya ya sesuai kepengen gue dan Rizal. Kayak foto kawinan. Suer benci banget gue kalo harus difoto berbagai angle, lagi liat kemana ato saling meluk. Buat gue berdiri ato duduk aja kesannya lebih bagus, lebih keliatan Raja Ratu sehari. Lhhaaa kok jadi bahas foto kawinan.

Yah, begitulah kisah the journeys-nya gue. Cinta itu butuh alat transportasi, kalau nyeker, cepet capek, haha joking. Gue menganalogikannya seperti itu, karena apa pun  kendaraannya, resiko perjalanan pasti tetap ada. Seperti cinta, perjalanannya gak akan mulus, even pesawat bisa terbang, cepat, dan kilat, tapi saat cuaca memburuk, udah pasti delayed, dan yang paling buruk yaitu jatuh. Love is never simple. Mau pakai andong sekali pun, kalau kudanya capek, jalannya jelek, as bannya pecah, kita pasti sulit meneruskan perjalanan. Cinta seperti itu, sulit, mudah pasti ada hambatannya. Tergantung kita bisa sabar dalam perjalanan itu, mau meperbaiki setiap masalah, dan siap menjalaninya.

Pada akhirnya gue memutuskan untuk memilih berjalan bersamanya. Bukan karena kesempurnaan cintanya, tapi karena dia mau memahami, mau belajar, dan yang pasti karena dia mau menggandeng tangan gue dalam setiap perjalanan kami. “Just the two of us, we can make it if we try….just the two of us..you and i….”