Tags

Prolog

Memilih kematian. Aku akan memilih kematian tanpa rasa sakit. Nyawaku akan meregang dengan sempurna, tanpa digerogoti penyakit macam-macam yang mematikan, gegar otak akibat kecelakaan, serangan jantung yang tiba-tiba, terpeleset di kamar mandi, kelaparan, bencana alam, tenggelam di laut, terbakar, diperkosa atau dibunuh. Semua pilihan kematian itu membuatku bergidik. Aku ingin mati dalam kedamaian yang abadi. Tapi kita tidak bisa memilih kematian kan? Karena kematian itu adalah takdir. Sepertinya halnya jodoh, kita tidak bisa memilih sesuka hati kita. Jodoh dan kematian adalah pilihan Tuhan, takdir Tuhan yang tak terbantahkan. Segala ilmu pengetahuan tidak akan bisa memecahkannya. Kematian adalah misteri.

Mungkin saja hari ini aku tertawa bahagia, besok pagi tubuhku akan terbujur kaku, tak bernyawa. Atau saja aku menangis, mengharapkan kematian segera datang, tapi umurku malah bertambah berpuluh-puluh tahun. Yang ingin mati besok berumur panjang, dan yang tidak ingin mati, besok mati. Keinginan dan ketidakinginan manusia jauh dari kata takdir. Kita hanya bisa menunggu, seperti apa bentuk kematian yang akan terjadi pada kita.

Aku selalu memikirkan kematian. Bagaimana aku akan mati kelak. Apakah dalam keadaan depresi atau bahagia. Banyak orang hebat mati muda, aku ingin seperti itu. Mati muda tapi dikenang semua orang, dibanding berumur panjang, tapi aku tidak dikenang. Aku ini orang yang banyak mau ya? Soal kematian saja aku pilih-pilih.

Saat ini umurku masih dua puluh delapan tahun. Sudah termasuk matang untuk ukuran perempuan. Apa aku sudah menghasilkan sesuatu? Apa aku sudah mewujudkan mimpiku? Apa aku sudah menemukan cinta sejatiku? Atau Menikah?  Sayangnya semua itu belum terwujud. Aku belum menghasilkan apa-apa, belum mewujudkan apa-apa, apalagi menikah. Cinta sejatiku hanya sebuah ilusi. Dan aku tidak menyangka sebuah cinta akan membunuhku dan membuatku terbaring kaku tak bergerak di sebuah ruang ICU Rumah Sakit. Aku mengalami koma.

Ini mungkin yang dinamakan mati suri. Nyawaku tidak bersatu dengan tubuhku. Keberadaanku dipertanyakan. Aku bukan hantu yang bergentayangan. Hanya saja rohku tidak bisa merasakan tubuhku. Aku hanya bisa menatap dalam kebisuan, dan mendengar suara orang-orang yang menengokku. Aku tidak merasakan tetesan air mata yang jatuh mengenai lenganku atau wajahku. Tubuhku tidak merespon apa pun. Tapi aku belum menghilang. Detak jantungku berdetak satu-satu. Mungkin kalau salah satu selang itu dicabut dari tubuhku, aku akan mati saat itu juga. Tapi tak ada satu pun orang yang berniat mencabutnya.

Aku berada di dunia yang entah apa namanya. Sepotong-sepotong kenangan dalam hidupku berputar berulang-ulang di kepalaku, seperti sebuah rekaman. Aku melihat diriku saat masih kecil, aku menangis ketika kembang gula yang aku beli dimakan abangku, tertawa bersama Mami Papi saat mereka membawaku ke taman ria. Bayangan itu berubah ke masa aku remaja, menari Bali, melukis pegunungan, kemudian berubah lagi pada saat aku kecil, bermain lego, membuat tower paling tinggi, berubah lagi ke masa remaja, rok abu-abu, dijemur di lapangan upacara, berubah lagi ke masa aku kuliah. Aku mengikat rambutku dan menusuknya dengan pensil, menggambar sebuah gedung pencakar langit, dan aku melihat senyum seseorang. Senyum yang bagai mentari untukku. Senyum yang aku harapkan bisa menjadi milikku selamanya. Rav. Dia tertawa sambil mencoret-coret gambar di atas kertas gambarku.

Bayangan itu pudar. Aku melihat air mata. Air mataku berjatuhan di pipi. Kebaya biru laut pemberian Rav. Aku memakainya dengan sedih. Tanganku bergetar saat menyentuh kebaya itu, ingin merobeknya dan mengoyak-ngoyaknya menjadi serpihan. Tapi aku menyayangi Rav, jadi aku memakainya. Hanya demi dia.

Dan aku melihat bayangan kematian itu. Begitu cepat dan tak terelakan. Air mata itu mengaburkan pandangan mataku. Hatiku yang carut marut dan babak belur membuatku tidak fokus sama sekali. Mobilku menabrak sesuatu dengan kerasnya, membuatku terpental dan kepalaku entah membentur apa. Semua itu terjadi dalam hitungan detik. Sesaat aku berpikir aku pasti mati.

Kecelakaan maut itu masih membuat jantungku berdetak, aku berhasil diselamatkan walau keadaaaku langsung koma. Aku masih hidup, tapi koma. Ini bentuk kematian yang tidak aku pikirkan sama sekali. Aku hanya tinggal menunggu detak jantungku menghilang.

Hari ini aku menunggu kematianku dengan takzim. Menunggu dan menunggu.