1688152_10209020503569459_1628440929762687782_nSaat memilih ‘hanya’ menjadi seorang Ibu rumah tangga, gue nggak pernah tahu bahwa begitu banyak ‘cibiran’ terhadap profesi mulia ini. Sebagian orang mungkin kaget dengan pilihan gue, banyak yang bilang gue ini bukan tipikal banget Ibu rumah tangga, kayaknya buat ngurus keluarga doang itu bukan Yuris banget. Ahh, kamu sok tahu…hahaha. Dan ya memang, dari keluarga nyokap, sembilan puluh persen jadi Ibu yang bekerja. Soo, kuping siap panas ya?

Sebenernya  gue orangnya nggak bisa diem, banyak hal dalam hidup yang pengen gue raih, yang pengen gue kerjakan. Gue juga bermimpi menjadi wanita karier sukses yang selalu pake stiletto kemana-mana, punya gaji besar (iyaalaahh..), hidup dari meeting ke meeting, pokoknya orang sibuk banget. Efek mabok kebanyakan nonton film dengan setting New York, hahaha.

Dan salah satu mimpi yang gue kejar mati-matian adalah kerja jadi jurnalis. Melenceng? Iya banget! Kuliah Arsitektur kok mimpi jadi jurnalis? Itulah salahnya gue, mencintai dunia menulis, tapi kuliah di tempat yang jauh dari cita-cita. Salahkan diri ini yang begitu plin plan dalam memutuskan akan kuliah dimana dan mengambil jurusan yang mana. Ya udah sih ya, gue nggak mau bahas galau-galaunya masa milih jurusan. Malu ati kalo inget, pengen jambak rambut sendiri, plus cakar-cakar muka (hmmm, sadisss hihihi).

Gue selalu memiliki prinsip, usaha terus walau terlambat dan harus berputar-putar. Bermimpi itu adalah hak segala bangsa eh manusia, haha. Dan menjadi jurnalis adalah ambisi tersendiri, udah kayak tujuan hidup gue di dunia ini adalah menjadi jurnalis. Ambisius banget.

Setelah menikah dan hamil, gue sempet berhenti bekerja, tapi tetap bertekad harus balik kerja dan gue pun melamar ke MRA Media Group, kebetulan salah satu majalahnya yang keren banget lagi buka lowongan (gue nggak mau nyebutin nama merk, ntar terngiang-ngiang, halah!). Dan kesempatan itu datang. Gue yang waktu itu baru melahirkan mengalami euforia besar-besaran. Gue meminta kakak gue cuti kerja untuk jagain Dave yang baru berusia empat bulan. Subuh buta gue udah pergi ke Jakarta untuk interview, cuma mampu menyediakan empat botol ASIP buat Dave (tega banget ya gue? Huhuhu sediihhh!). Dan gue berharap, gue bisa cepat pulang karena takut Dave kelaparan.

Semuanya mulus. Sampai pada titik pertanyaan, “nggak apa-apa bayi kamu sering kamu tinggal? Karena pekerjaan ini sangat menuntut dan menyita waktu.”

Gue tahu menjadi jurnalis itu pasti menyita waktu dan harus terjun ke lapangan, apalagi ini salah satu majalah prestigious yang pasti menuntut kerjaan tepat waktu dan gila-gilaan. Tekanannya pasti jauh lebih besar,  MRA Group gitu lhoo. Nggak mungkin gue kerja ongkang-ongkang kaki dan duduk cantik nine to five. Iya nggak?

Mimpi jadi Carrie Bradshaw udah mengakar di kepala, gue mengatakan sanggup. Anything..yang penting gue kerja jadi jurnalis. Menguras waktu pun gue nggak apa-apa. Lagian ASI kan bisa dipumping, Dave bisa minum ASIP. Toh di luaran sana jutaan jurnalis perempuan pasti punya anak juga, kenapa gue harus takut?

Gue harus siap bekerja dalam satu minggu, itu artinya gue harus mengurus kepindahan ke Jakarta segera. Suami masih ngekos di Jakarta, PR banget buat cari kontrakan rumah dan cari babysitter buat Dave. Bukan hal yang mudah, tapi gue udah bertekad. Ini mimpi gue, ini yang harus gue raih.Ini tuh kayak ‘dreams come true’ banget, gayung bersambut. Gue udah membayangkan yang indah-indah. Bukannya lebay, namanya juga pekerjaan impian. Harap maklum, hehe.

Dan hidup itu memang pilihan.

Pulang ke Bandung gue terjebak macet gila-gilaan. Gue sampe frustasi di jalan, ASI gue merembes kemana-mana, belum lagi cenut-cenutnya yang menyiksa (Busui pasti paham penderitaan ini T_T, seharian boook!). Kakak gue mengirim foto Dave yang lagi ngemut tangan. It’s break my heart, apalagi pas tahu susunya abis, dan Dave terpaksa minum air putih karena nangis terus.  Gue ngerasa nggak berguna banget sebagai ibu, rasanya pengen lari pulang dan peluk Dave sambil minta maaf. Tapi stuck di jalanan Jakarta, nggak memungkinkan gue untuk lari dan terbang. I’m not a superwoman, huhuhu.

Hampir jam sembilan malam gue baru sampe Bandung. Berapa jam coba gue ninggalin Dave? Enam belas jam! Tangisan Dave saat melihat gue itu bikin gue patah hati berulang-ulang. Secepat kilat gue ganti baju dan cuci tangan, kemudian menggendongnya sambil ikutan nangis. Setelah menjadi Ibu, gue lebih cengeng dan baperan.

Suami gue nggak pernah melarang gue untuk balik kerja, nggak ada batasan atau suami tukang ngatur. Dan perlu diakui, hidup berjauhan setelah menikah itu lumayan menguras hati. Selain itu, gue waktu itu merasa butuh uang lebih buat membangun keluarga (yailah gaya bener gue). Intinya kita berdua punya mimpi untuk memiliki rumah sendiri, kendaraan sendiri, dan uang untuk hidup yang lebih baik (boleh dibaca : banyak jajan, banyak liburan XD).

Dalam dua hari gue harus memutuskan, ngambil kerjaan jadi jurnalis, yang artinya mimpi gue tercapai, atau menjadi Ibu rumah tangga. Gue mikir lama banget. Melepaskan mimpi, fokus pada karier, atau menjadi full time mom, fokus pada anak dan keluarga.

Berat. Sulit. You name it. Satu sisi gue butuh aktualisasi diri, satu sisi punya uang sendiri, dan satu sisi..ini yang paling berat. Anak. Ternyata gue nggak setangguh itu untuk berada di jalur mimpi. Gue memilih keluarga, dan melepaskan mimpi gue, melupakan karier yang diidam-idamkan, melupakan ingin menjadi seorang Carrie Bradshaw dan Andrea Sachs sekaligus (Andrea itu tokoh dari novel super kece, The Devil Wears Prada XD). Nggak ada yang tahu kan betapa sakitnya dan sedihnya gue saat harus memilih? *diiringi lagu “O”-nya Coldplay.

Mungkin iya anak bisa dijaga babysitter, tapi rasa percaya gue sama orang tuh tipis banget. Dan Dave lebih membutuhkan gue dibanding apa pun. Gue ibunya, dia berhak mendapatkan perhatian full dari gue. Jauh di dasar hati, gue pun takut nggak bisa menjadi ibu yang baik, menjadi ibu yang gagal dalam mendidik anak. Begitu besar tekanan dalam diri gue sendiri. Gue nggak mau Dave kehilangan sosok ibunya. Gue pengen utuh ada di dekatnya. Hanya Allah SWT yang tahu kenapa gue begitu mendamba menjadi seorang ibu seutuhnya.

Dan gue percaya rezeki itu sudah diatur oleh Allah SWT, gue nggak perlu takut hidup susah (tsahhh).

Setiap gue mendengarkan The City of Blinding Lights-nya U2, gue cuma bisa senyum miris. Lagu itu yang nemenin gue mengejar mimpi. Mimpi seorang perempuan yang ngebet banget jadi jurnalis. Membayangkan tulisan-tulisan gue ada di kolom majalah tiap bulan, menulis setiap hari. Merinding membayangkannya. Menggairahkan.*nyusut airmata

Gue tahu, karier menjadi jurnalis sudah masuk kotak “goodbye”, tapi semangat menulis gue jangan sampe padam. Memiliki anak nggak menghalangi gue buat berkarya. Diawali dari menulis cerpen, sampe akhirnya menulis novel sendiri, Broken Vow (promo teteupp :D). Buat gue itu adalah pencapaian luar biasa di tengah mengurus keluarga. Yang penting anak-anak selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari gue. Mimpi gue mah bisa nunggu, tapi melihat anak-anak tumbuh itu nggak bisa nunggu. Waktu terkadang berlari sangat cepat.

Tapi, seketika…kenyamanan itu terganggu. Hati gue gundah dan pedih saat seseorang yang begitu dekat dengan gue mengatakan kalau gue telah gagal menjadi seseorang. Gagal memiliki pekerjaan dan karier, percuma menjadi sarjana, percuma sekolah tinggi-tinggi. Gue seorang pengangguran dan gagal. Itu menyakiti hati gue.

Gue menangis. Benarkah gue menjadi seorang yang gagal? Tidak menghasilkan uang dan hanya bergantung pada suami?

Itu semua memukul perasaan gue dengan telak, meninju ulu hati tepat sasaran.

Salahkah ‘hanya’ menjadi seorang Ibu rumah tangga? Salahkah menjadi seorang sarjana ‘pengangguran’? Salahkah  tidak memiliki pekerjaan dan punya uang sendiri?

Dan gue berdiskusi dengan suami untuk mencari pekerjaan setelah si bungsu dua tahun. Gue kena serangan panik waktu itu. Gue tahu sudah enam tahun lebih gue nggak bekerja, nggak punya karier yang mentereng. Tapi suami hanya menatap gue dan berkata, “Sayang, memangnya kamu mau gaji berapa? Dan kamu mau kerja apa?”

Dueeng! Iya, gue mau kerja apa? Dunia Arsitektur udah gue tinggalkan bertahun-tahun lamanya, gue cuma jadi asisten suami, itu pun sebatas interior. Skill Autocad gue udah masuk jurang yang dalam. Menjadi jurnalis? Gue nggak punya pengalaman apa-apa, selain nulis cerpen dan novel. Gue mau kerja kantoran dimana? Itu membuat gue sedikit depresi. Kata GAGAL membentang di depan wajah.

Suami sambil ketawa bilang, “Ntar kalo kamu kerja banyak godaan, ntar ada yang naksir.”

Diih, siapa yang mau naksir sama ibu-ibu dua anak yang udah turun mesin dan menggendut? Yang bau ASI dan ompol anaknya? Tapi dia memang agak protektif soal masalah itu, mungkin masih merasa istrinya masih sekurus Selena Gomez hahaha. *lempar timbangan ke Timbuktu

Suami meyakinkan gue kalo gue bukan orang yang gagal, bahwa setiap keluarga memiliki keputusan dan pilihan masing-masing. Bahwa menjadi Ibu rumah tangga itu sangat mulia, dan anak-anak butuh ibunya. Dia bilang, gue udah hebat, bekerja nggak melulu di luar rumah. Dan gue nanya, “kalo anak-anak udah gede, aku ngapain? Bengong?”, suami cuma ketawa, “Mami bisa ke salon kapan pun, baca kapan pun, bisa tidur pulas, dan bisa buka usaha sendiri..”. Terkadang dia emang sweet banget. Tapi kata gagal itu masih mengganggu. Kayak disilet-silet terus dikasih jeruk nipis. Pedih, Jendral!

Ahh, jadi teringat percakapan konyol gue dengan suami beberapa bulan yang lalu. Pulang dia kantor, gue duduk diam. Dia nanya, “kenapa?” sambil buka sepatu, mukanya udah was-was aja. Males kan? Sama dia tuh nggak bisa boong, duduk diam aja bawaannya curiga. Gue bilang, “bosen. Di rumah terus. Enak ya kalo kerja kantoran, pulang kantor disambut anak-anak. Mumet pun langsung ilang, cuma liat senyumnya anak-anak. Kalo aku? Mumet sama rumah liat apa coba?”. Suami menatap gue lempeung, “ya udah, besok-besok aku ajakin kamu liat gedung-gedung perkantoran kalo lagi mumet.”, zzzz…”nggak lucu!”, bantal sofa pun melayang ke tubuhnya. Nyebelin!

Gue kembali merenung, memikirkan hakekat gue sebagai seorang ibu. Ya, gue udah melupakan mimpi jadi jurnalis. Mengorbankan keinginan pribadi demi keluarga, mengesampingkan sisi egois gue sebagai manusia yang kepengen eksis dan butuh aktualisasi diri. Dan seluruh waktu gue berikan hanya demi keluarga. Btw, kesannya gue ‘heroik’ banget ya? Demi keluarga heheh. Ahhh, apa siihh Ibu rumah tangga doang, nggak punya kerjaan. *Besok-besok bawa selotip kemana-mana, biar pada mingkem (sadis ;P)

Dan itu tidak mengganggu gue. Ya, terkadang gue lelah, jenuh, dan pengen nangis keras-keras sama dunia gue ini. Tapi di sisi lain, ini adalah tempat ternyaman gue, kebahagiaan gue. Keluarga kecil ini mengubah gue, bukan hanya kepribadian, tapi cara gue berpikir.

Pernah sih sedikit nyesek, waktu itu lagi ngambil raport anak. “Jadi pekerjaan ibu?”, gue agak tersentak, “hanya ibu rumah tangga”. Senyap sesaat, “Dave sama saya sepanjang waktu..” gue tersenyum manis. Rasanya pengen nambahin saya sesekali nulis, tapi gue kan bukan Dewi Lestari, seorang penulis terkenal. Dan lagian nggak ada gunanya menjelaskan, karena pekerjaan gue menulis hanya paruh waktu alias kalo ada waktunya. Biarlah yang bangga itu cuma suami dan anak-anak gue. Setidaknya gue nggak “menganggur” dan menghasilkan sesuatu.

Bagi dunia gue bukan apa-apa dan siapa, hanya seorang Ibu rumah tangga biasa kebanyakan. Tapi mungkin, di mata anak-anak gue, gue adalah segalanya. Dan itu cukup buat gue sekarang. Gue senang dengan ketergantungan mereka pada gue, walau sering bikin ‘sakit kepala’, tapi mereka lebih banyak membuat gue tertawa. Hidup gue nggak suram lagi. Mereka membuat gue lebih sering bersyukur.

Tiada harta yang lebih berharga dari anak-anak gue. Gue nggak peduli lagi sama omongan orang. Ini hidup gue, pilihan gue. Dan gue nggak mau jauh dari anak-anak, bukan hanya secara fisik saja, tapi hati.

Gue menggantungkan harapan dan impian pada anak-anak. Biarlah gue menjadi orang kebanyakan, hanya ibu rumah tangga biasa. Tapi di dalam hati yang paling dalam, gue menginginkan anak-anak gue menjadi orang yang sukses. Sukses dalam ibadahnya, maupun kariernya. Apalagi anak-anak gue laki dua-duanya. Butuh effort yang lebih besar, gue kan nggak mau ntar anak-anak gue susah, apalagi bikin sengsara anak orang, hehe.

Kalau pun nanti hasilnya nggak sesuai harapan gue. It’s okay, setidaknya gue berusaha dalam membesarkaan anak-anak dan selalu mendampinginya. Kalau bicara takdir kan susah ya boook? Balik lagi, manusia berusaha, Allah SWT yang menentukan (benerin kerudung).

Dan terpenting selama rezeki itu bisa dicari dan suami masih ngasih jatah ‘Ria Miranda’ tiap bulan (minta dijitak banget. Woyy! Ini cuma RM gitu lhooo, bukan berlian, bukan Hermes dan LV, jadi kalem aja oke? XD), nggak apa-apa lhaaa yaaa gue jumpalitan sama anak-anak, bau acemnya mereka, dasteran mulu di rumah, dan nonton sinetron ala-ala D’Hijabers itu (oohh, no!!), yang penting nggak saban jam nongkrongin Uttaran kayak nyokap gue haha, nggak apa-apa less makeup, daripada ntar dikomentari, “di rumah aja sis, tapi muka udah kayak mau ngelenong”. Sakit sis, banyak komentar, hehehe.

Menjadi Ibu rumah tangga bukan sekedar ‘hanya’, begitu banyak tantangan yang harus dihadapi, dan ujian kesabaran pun luar biasa. Belum lagi di luaran sana dibilang cupu, nggak punya teman gaul, nggak punya wawasan, dan bikin cepat tua. Ahh, orang emang enak banget kalo soal mengomentari. Seakan-akan dunia mereka lebih baik. Mungkin mereka kebanyakan piknik atau mungkin kurang piknik, hehehe.

Tenang aja, gue merencanakan hidup gue kok. Sekali lagi, setiap keluarga, terutama suami dan istri pasti memiliki keputusan yang disepakati bersama. Nggak ada yang merasa dirugikan kok. Semuanya Senang.

My family is my happiness.

Oh, ya please, jangan sekali-kali bilang jadi Ibu rumah tangga itu membosankan kalo kamu nggak pernah merasakannya.

Ini hanya curhatan Ibu rumah tangga biasa, dan kami nggak perlu dikasihani :).

 

Yuris Afrizal