images9NI7LNPN

2  WE WERE NOTHING

Aku menamatkan film Friends with Benefit. Hubunganku dengan Rav tidak separah itu sih, apalagi sampai rela tidur dengan Rav. No way dehh, hubunganku dengan Rav sangat normal, tidak mungkin kami berdua seperti itu. Kami hanya saling berbagi cerita, pekerjaan dan hobby. Seperti sahabat normal lainnya, hanya saja yang tidak normal itu adalah perasaanku. Sulit sekali aku mengenyahkan Rav dari hatiku, aku sudah melemparkan jangkarku padanya, tapi Rav tidak menyadarinya, mungkin lama-lama jangkar itu akan karatan dan akhirnya rusak sendiri. Aku hanya berharap aku bisa bersahabat dengan Rav tanpa beban di hatiku.

Rav, kenapa sih kamu terobsesi sama perempuan Jawa? Apa karena Mama kamu yang asli Jawa dan memiliki darah ningrat? Aku bertanya-tanya dalam hati.

Aku belum pernah bertemu Mamanya Rav, Mamanya sudah meninggal saat Rav berusia sepuluh tahun, beliau meninggal karena sakit kanker payudara. Rav sangat mencintai Mamanya, buat dia Mamanya adalah segalanya, wajar kalau dia begitu kehilangan Mamanya dan selalu mencari sosok seperti Mamanya. Perempuan Jawa ningrat yang memiliki tutur kata halus, lemah lembut dan keibuan.

Rav mengejar bayang Mamanya di setiap perempuan yang dia temui. Sudah banyak perempuan yang patah hati oleh Rav, sejak kuliah Rav mencari dan terus mencari sosok perempuan Jawa. Awalnya aku tidak mengerti apa maunya Rav, apa yang dicarinya. Aku tidak memahaminya, sampai akhirnya Rav mengakui tentang keinginannya. Aku sering bilang itu obsesi, tapi Rav selalu menampiknya. Kadang aku berpikir otaknya mungkin cuma setengah, dia tidak bisa membedakan antara keinginan dan obsesi.

Aku mendesah panjang, layar tv masih menyala biru. Angin sepoi-sepoi masuk ke kamar kostku melalui jendela-jendela panjang yang bisa dibuka seperti pintu. Aku mulai mengantuk. Weekend ini aku menghabiskan waktuku di kamar kost. Sejak Rav punya Vira, jarang banget aku bersamanya lagi, ketemu hanya sesekali untuk membicarakan proyek rumahnya Pak Sasmito. Aku mengerjakan proyek itu di kost sendirian, males kalau bareng Rav. Ada manusia bertoket besar yang selalu ngintil. Kami hanya saling mengirim gambar lewat email. Komunikasi hanya lewat ponsel.

Rav sering protes kalau aku nggak datang ke workshop kami. Kerjaan lagi banyak, proyek interior cafe di Kemang belum rampung. Semua contoh bahan interior ada di workshop, karena aku malas ketemu Vira sebagian aku bawa ke kost. Itu bikin Rav ngambek, karena pada saat klien lain datang untuk melihat sample, dia jadi kelabakan sendiri. Rav melayangkan protes. Duuhh, dia ngerti nggak sih sama perasaanku? Gimana aku mau kerja fokus bareng dia kalau Vira selalu ada. Mana manja banget lagi, badannya nemplok mulu ke Rav. Aku kan jadi gerah sendiri. Bilang aja jealous, Del! Yeah, aku cemburu. Sampai ubun-ubun. Puas?

Aku berdiri dari sofa. Waktunya kerja. Aku merenggangkan tubuhku. Angin yang bertiup sepoi-sepoi dari jendela sedikit menyegarkanku. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar kost. Syukurlah aku menemukan tempat kost ini. Kost-an ini bukan seperti kost-an standar yang ada di Jakarta. Kost-an ini mirip bentuk apartemen studio, dengan satu kamar mandi dan pantry di dalam. Luasnya lima belas meter persegi, cukup luas untuk aku isi dengan kasur ukuran queen, satu sofa, meja kopi, rak tv, dan rak buku.

Rav yang mencarikan tempat ini untukku. Kebetulan ini milik temannya. Rav bilang aku pasti suka dan betah. Walau agak mahal sewanya, tapi dijamin aku pasti menyukainya. Rav cocok juga jadi orang marketing, pintar merayu. Tapi memang sih pada saat pertama kali aku melihat tempat ini aku langsung klop. Apalagi kamarnya dilengkapi teras kecil di belakang kamar, dilengkapi dek kayu pendek yang langsung berhadapan dengan kolam ikan. Cocok untuk mencari inspirasi gambar sambil melihat langit biru atau pada saat langit berbintang. Seminggu kemudian aku langsung pindah. Sudah hampir setahun aku di sini.

Ponselku bergetar. Nama Rav terpampang di layar. Aku menarik nafas.

“Yepp…”

“Ke sini nggak?” Rav langsung to the point.

“Nggg, nggak kayaknya…”

“Del, gue susah kalau kita cuma tukar-tukaran gambar di email. Susah bahasnya. Ini Pak Sasmito minta desain plafond kamarnya diubah sedikit, elo bisa kan ke sini? Kita bahas bareng. Sekalian nentuin wallpaper buat kamar anak-anaknya…”

“Gimana ya Rav..”

“Del, elo kenapa sih?”

“Oke, oke gue ke sana…” aku menjawab dengan cepat. Aku nggak mau Rav curiga soal ketidaksukaanku akan Vira. Duuh, tapi faktanya emang begitu. Aku benci setengah mati sama Vira.

“Vira dateng?” arrgggg nyeplos juga.

“Iya. Kenapa?”

Dalam hati ingin menjawab, datang mulu. Tapi aku hanya menjawab, “oke. See you…” dan aku mematikan ponselku.

********

Lima belas menit kemudian aku sudah berada di dalam jazz putihku, meluncur pelan ke daerah Rempoa. Hanya butuh waktu paling lama empat puluh lima menit menuju rumah Rav. Lebih cepat lebih baik. Dan aku berharap Vira belum datang. Ini baru jam sebelas, palingan dia lagi nyalon dulu, seperti biasa kalau mau ketemu Rav. Ribet banget deh pokoknya. Tiap ketemu Rav harus dandan cantik, rambutnya yang panjang dibikin ikal-ikal mirip iklan shampo. Emang cantik sih, harus aku akui. Diih, jadi bahas si Vira.

Aku memarkir mobilku di garasi rumah Rav. Langsung menuju paviliun rumahnya. Papanya Rav kalau sabtu siang pasti lagi golf, dan adiknya Athar pergi futsal. Di rumahnya cuma ada si Mbok Minah, yang asli Jawa itu. Kalau dipikir-pikir, cari cewek Jawa kan gampang ya? Minta cariin aja sama Mbok Minah di kampungnya. Tulen semua tuh.

Aku melihat pintu paviliun tertutup. Tumben, biasanya terbuka lebar. Suara lagu John Legend terdengar pelan dari dalam. Dengan sekali sentak aku membuka pintu.

“Ra…v..” suaraku terputus. Pemandangan yang aku lihat sangat, sangat menyakitkan mataku. Aku melihat Rav sedang berciuman dengan Vira.

Berciuman! Berciuman! Seumur-umur Rav berpacaran dengan segala macam jenis perempuan, belum pernah aku memergoki Rav dan pacarnya saling, saling..ohh my God. Tembak saja kepalaku sekarang. Tubuhku bergetar hebat melihat mereka berdua saling…

Rav sepertinya menyadari kehadiranku. Dia langsung melepaskan ciumannya. Agak kaget saat melihatku, tapi kemudian langsung nyengir cuek. Vira hanya mendesah pelan. Dasar perempuan…God, aku nggak bisa bilang dia jalang kan? Dia pacarnya Rav, demi Tuhan.

Wajahku memanas.

“Sorry, ganggu..” aku membalikkan tubuhku.

“Eh Del, Adel!” Rav langsung berdiri dan meraih tanganku.

“Rav, gue balik ya? Ntar gambarnya gue kirim lewat email…” aku menggigit bibirku, berusaha menahan tangis.

“Sorry, Del. Gue minta maaf..”

“Rav, elo nggak perlu minta maaf. Gue, cabut ya? Nggak enak ganggu orang pacaran…”

“Aduuh, Del. Jangan ngambek dong…” tiba-tiba si toket besar muncul di belakang Rav. Mengikat rambutnya ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Dan harus ya dia pake kaus setipis itu? bra hitamnya terlihat jelas di balik kausnya itu. Dasar pasangan mesum.

Aku memaksakan senyumku, “santai. gue lagi buru-buru juga. Cuma si Rav nyuruh ke sini, gue cuma mampir. Tahunya ada orang lagi pacaran..”

Vira ketawa kenes sambil menggelendot manja di bahu Rav. Aku menahan nafasku agar nggak mendengus. Aku masih memasang senyum terpaksaku. Aku melirik pada Rav yang wajahnya terlihat kurang nyaman. Si Vira ini ampun dije deh.

“Gue balik…”

“Tapi proyek Pak Sasmito…”

“Rav, pacaran aja dulu. sorry motong acara hot kalian berdua…” kata-kata pedas keluar dari mulutku. Aku melepaskan genggaman tangan Rav, dan berlalu dengan perasaan yang luar biasa kacau balau.

“Del, please..”

Aku terus berjalan menuju mobil, tidak mempedulikan teriakannya Rav. Hatiku hancur dan sakit sekali. Tega sekali kamu Rav. Tega.

*******

Aku duduk bersila di sofa Starbucks PIM. Meminum Frappucinnoku tanpa merasakan apa-apa. Ruang hampa menggayut di hatiku. Aku nggak pernah menyangka Rav seperti itu. Aku tahu mereka pacaran. Tapi haruskah Rav bertingkah seperti itu dengan pacarnya? Apalagi baju si Vira yang ketat dan transparan, sekalian aja nggak usah pake baju.

Aku sulit sekali mengenyahkan adegan ciuman meraka yang…super hot. Seharusnya aku yang dicium Rav, bukan Vira. Aku membenamkan kepala di kedua tanganku. jangan sampai aku mengkhayal yang nggak-nggak. Aku bukan pacarnya Rav, aku cuma sahabatnya. God, kenapa ini semakin sulit?

Ponselku bergetar terus-terusan. Aku mendiamkannya. Sudah ada belasan misscalled dari Rav di sana, tapi aku nggak mau mengangkatnya. Aku terlalu sedih buat ngomong sama Rav.

Satu SMS muncul, aku membacanya sekilas.

Otw kost-an lo.

Aku tidak membalasnya. Entahlah. Aku malas ketemu Rav, lebih baik aku tidak pulang sekarang. Aku tidak mau lihat kemesraan Rav dan Vira lagi. Cukup, semuanya udah cukup bagiku. Aku membulatkan tekadku. Aku akan berhenti jadi partnernya Rav. Aku dan dia harus berpisah. Aneh kan kalau kerja ada makhluk bertoket besar seliweran di depan mataku? Kerja ya kerja, pacaran ya pacaran. Rav mulai oon, nggak bisa bedain keduanya.

*********

Aku tersentak kaget. Mobil Civic hitam Rav terparkir manis di parkiran kostku. Duh, kalau kabur, mau kabur kemana? Ini udah jam sembilan malam. Masa ke club? Dugem? Bukan aku banget, tapi aku nggak bisa ketemu Rav sekarang.

“Nggak turun?” tiba-tiba ada yang mengetuk jendela mobilku. Rav.

Aku gelagapan, refleks membuka kaca jendelaku.

“Ngapain? Udah malem. Gue nggak enak sama temen kost gue…”

“Kayak gue nggak pernah balik subuh aja dari sini…” mata Rav menyorot aneh.

Aku menutup kaca jendelaku, membuka pintu.

Rav mundur, dia masih menatapku.

“Nggak pake jaket? Ntar masuk angin lagi..”

Biasanya aku akan geer setengah mati dan mengatakan sesuatu untuk menggodanya. Tapi aku hanya menatap tubuhku yang berbalut tshirt Myloxyloto dengan santai.

No problemo. Bukan masalah lo juga kalo gue masuk angin…” aku berkata dingin. Rav tersentak.

“Gue mau ngomong..”

“Ngomong aja..” aku bersidekap. Sial emang lumayan dingin.

“Gue minta maaf soal Vira…”

You should…” aku tersenyum sinis.

“Del, gue udah keterlaluan banget ya?”

“Rav, gue tahu Vira itu pacar lo, cinta mati lo, cewek Jawa Manado yang paling elo impi-impikan sepanjang masa. Tapi please, gue nggak bisa kerja kalo elo berdua pacaran di depan gue. Kayak nggak punya waktu aja siihhh?”

Wajah Rav mengerut.

“Elo mau ciuman kek, jumpalitan kek, having sex kek sama dia. Gue nggak peduli Rav, gue nggak peduli. tapi tolong hargai gue sebagai partner kerja lo…” aku mendengus keras. rasa sakit menghujam jantungku lagi.

“Siapa yang having sex?” Rav nggak terima.

“Ya elo lah sama pacar mesum lo yang kalo pake baju minta ditidurin!”

“Del, jaga omongan lo. Vira sama gue nggak kayak gitu! It’s just a kiss. Elo kenapa? Cemburu sama Vira?”

Kalimat terakhir membuat wajahku merah padam.

Iya, gue cemburu Rav. Gue benci setengah mati sama Vira. Puas lo? Puas?

Aku terdiam lama. Rav menggelengkan kepalanya, “elo sobat gue Del, seharusnya kita nggak perlu berantem kayak gini. Gue minta maaf…”

Ya karena kita sahabat Rav, itu bikin hatiku hancur.

I quit..”

Rav tersentak, “quit? Dari?”

“Semua proyek kita…”

“Elo partner gue Del. Nggak bisa.” Wajah Rav menegang.

“Gue lagi banyak kerjaan di kantor dan gue perlu pacaran juga…”

Rav melongo.

“Elo punya pacar Del?”

Aku menggeleng lemah, “gebetan. Gue butuh punya pacar…”

Aku menekankan kata pacar.

“Elo ngomong kayak gini buat nyakitin gue kan?”

Nyakitin? Elo yang nyakitin gue berkali-kali Rav. Kedudukan gue nggak akan pernah berubah kan Rav? Dari sahabat jadi pacar lo?

Aku ingin menjawab seperti itu, tapi nggak mungkin kan?

“Rav, kita masing-masing dulu…”

“Del, nggak bisa gitu…” wajah Rav kini mengeras.

“Rav, gue nggak mau ya mergokin elo sama Vira lagi saling membuka baju. Oke?”

“Jadi masalah lo cuma di Vira kan? Oke, fine. Gue ketemu Vira lain waktu, lain hari…”

“Bukan soal Vira, tapi gue butuh space Rav. Gue butuh punya pacar. Gue nggak mau weekend diisi kerja juga. Gue butuh pacaran kayak elo…” suaraku masih dingin.

Rav memegang kepalanya, menghembuskan nafas keras-keras. Dia menyulut rokoknya, menghisapnya keras-keras. Belum pernh dia merokok di depanku lagi sejak terakhir aku memarahinya soal rokok dua tahun yang lalu. Tapi kini dia dengan cuek menghisap alat kematian itu di depanku.

Aku pun tidak melarangnya. Aku berusaha tidak peduli lagi soal Rav. Aku mulai muak dengan perasaan cintaku pada Rav.

“Elo kekanakan Del..”

Aku diam saja.

“Gue balik. Terserah elo mau gimana, tapi kita tetep partner. Soal kerjaan, lewat email aja..” Rav menjatuhkan puntung rokoknya dan menginjaknya.

“Masuk gih, ntar masuk angin. Gue nggak mau pas ketemu ada keluhan sakit lagi…” Rav tersenyum.

Aku menggeleng lemah, “kasih gue waktu buat mikir..”

Rav tercenung, kemudian mengacak rambutku. Seakan-akan dia ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi dia malah mengangguk.

“Elo kalo cari cowok yang bener ya?”

“Kayak elo cari cewek bener aja Rav..” aku berkata sinis.

Dia malah nyengir lebar, “gue sih bisa santai, ceweknya yang kebakaran..” dia terkekeh.

“Gue bisa jaga diri..”

Aku mendengus sebal.

“Judes amat neng. Baekan yuk?” Rav mengulurkan kelingkingnya. Aku memutar mataku.

“Oh, common Del..” dia menarik tanganku dan meraih kelingkingku.

“Baikaaaann. Yess!”

Mau nggak mau aku tertawa.

Rav merangkul tubuhku. “Elo sahabat gue Del. You are the best…”

Mataku kembali memanas, dan satu airmata pengkhianat bergulir di pipiku.

*********