best-friends-forever-quotes-sayings537885
1 Best Friend Forever

“Gue buatin teh ya? Kebiasaan sih, punya maag tapi disayang-sayang…”
“Ngomel dehhh…”
“Gimana nggak ngomel Del..”
Aku menatap Rav dengan wajah ditekuk. Melihatnya mengambil mug besar, satu kantong teh, dan dua sendok gula. Wajahku boleh diset cemberut, tapi dalam hati aku tersenyum melihat cara Rav memperhatikanku. Aku menikmati setiap perhatian yang Rav berikan.
Rav memberikan mug berisi teh panas itu. Aku meminumnya perlahan, mengintip wajahnya dari sela-sela mug. Rasa hangat mengalir ke perutku, ke hatiku, dan tubuhku.
“Apa lihat-lihat?” Rav mengerutkan keningnya.
Aku tersenyum, kemudian bergelung manja di bahunya, dia merangkulku. Menatap langit sore di tempat workshop gambar kami. Duduk berdempetan seperti sepasang kekasih. Jangan bayangkan kami berpacaran, tidak sama sekali. Kami bersahabat. Dan telah berikrar “Best Friend Forever”.
Senang? Tentu saja tidak. Mungkin hanya aku yang merasa status bff itu sangat mengganggu. Diam-diam aku mencintai Rav. Entah sejak kapan perasaan itu muncul, yang aku tahu dan aku rasakan, aku tidak bisa menatap lelaki lain selain Rav. Hatiku hanya dipenuhi Rav, tapi sepertinya Rav tidak menyadari perasaanku padanya. Padahal kadang-kadang aku menunjukkannya secara gamblang, hanya saja Rav seakan-akan tidak peduli, dia berpura-pura tidak mengetahuinya.
Apa yang lebih buruk dari mencintai sahabat sendiri?
“Elo kalo lagi sakit gini jadi manja….”
“Biarin kan ada yang manjain…”
“Seenaknya aja. Gue bukan suster tau…”
Lihat kan? Rav akan menjawab cuek. Seharusnya kalau di film-film romance, dialognya akan begini.
“Elo kalo lagi sakit gini jadi manja…”
“Biarin, kan ada yang manjain…”
Rav tidak akan menjawab apa-apa hanya tersenyum simpul. Adegan selanjutnya, dia akan mengelus rambutku dengan sayang, mengecup keningku dan berkata, “iya kalau kamu sakit aku jadi pengen peluk-peluk kamu terus…” dan kami akan bertatapan penuh cinta. Happy ending.
“Eh, malah bengong…” Rav menyentakkan bahuku.
Lamunanku buyar. Rav beranjak dari sofa menuju meja gambarnya, duduk memunggungiku. Dia akan selalu bersikap seperti itu setiap aku memancing sesuatu dalam hubungan kami. Dia akan pergi, bersikap masa bodoh.
Aku mendesah di sofa, memiringkan tubuhku. Menyalakan CD. Suara Danny O’Donoghue mulai terdengar melantunkan bait pertama lagu Science and Faith. Aku dan Rav penggemar kelas berat The Script, itu persamaan kami yang kedua setelah kami sama-sama cinta mati dengan Arsitektur kolonial. Too similar kami berdua itu, itu mungkin yang membuat kami bertahan dengan status bff. Menyenangkan buat Rav, menyebalkan buatku.
Dari Sabtu pagi kami berdua menghabiskan waktu di workshop gambar milik kami, lebih tepatnya sih paviliun rumahnya Rav yang kami sulap jadi tempat workshop buat gambar. Kami berdua sehari-hari bekerja di Konsultan Arsitektur, hanya beda kantor. Punya workshop hanya untuk mencari tambahan dengan mengerjakan proyek di luar kerjaan kantor. Kalau cuma mengandalkan gaji kantor, bisa semaput kami berdua.
Kami tidak naif. Arsitek sama saja dengan buruh lainnya. Bekerja melampaui batas waktu, kadang tidak tidur hanya untuk menyelesaikan sebuah desain. Untuk satu desain gedung saja, perlu ratusan gambar untuk digambar dan dicetak. Sebelum dicetak kami harus bekerja rodi, bekerja sama dengan para drafter yang kadang butuh penjelasan mendetail menyelesaikan gambar.
Gaji? Aku kasih tahu sedikit rahasia ya. Gaji Arsitek di Indonesia beragam. Dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Yang kaya hanya owner dan Direktur. Arsitek itu hanya kacung gambar berpenampilan necis. Pekerja profesional tapi bergaji rendah. Kalau mau menambah uang tabungan harus membanting tulang mencari proyek-proyek tambahan. Pantas saja kami bermasalah dengan penyakit maag, lambung dan gangguan pencernaan.
Kalau mau jadi Arsitek berpenghasilan puluhan juta. Harus menjadi Arsitek fenomenal. Punya konsultan sendiri dan uang yang banyak. Ujung-ujungnya akan membuka kantor kontruksi atau Developer perumahan juga. Kontraktor lebih menjanjikan dibanding Arsitek. Tragis? Memang itu kenyataannya. Kreatifitas yang tidak dihargai, aku menamainya.
Aku pernah diminta untuk mendesain sebuah rumah. Untuk orang yang awam dan jauh dari kata profesionalisme, mereka akan berkata, “gue bayar sejuta deh buat gambar lo…”. Sejuta? Dikira bikin bangunan dari lego dibayar sejuta. Aku akan menolaknya dengan senang hati. Aturannya, desain itu dihargai permeter. Tapi mereka-mereka mana mau mengerti, buat mereka kalau bisa bayar semurah-murahnya itu baru oke. Miris ya? Dikira ide gambar itu muncul begitu saja ke permukaan. Sebuah ide yang dihargai murah. Biasanya setelah dipaksa untuk membuat sketsa, mereka akan kabur dan berkata, “proyeknya nggak jadi…”, dan mereka mendapat inspirasi dari coretan sketsa itu, membuatnya sendiri, atau menyuruh drafter lulusan SMK untuk mewujudkannya.
Aku dan Rav membenci semua itu. Kami terpaksa menjadi kacung gambar demi sesuap nasi dan baju-baju keren. Aku hiperbolis? Terjun saja sendiri ke dunia Arsitek. Percaya atau tidak itu urusan masing-masing. Gaji pertamaku di kantor Konsultan hanya satu setengah juta, plus uang lembur, paling sebulan dapat tiga juta. Setelah jadi Arsitek Senior saja gajiku naik jadi tujuh juta. Disebut Arsitek Senior, minimal kerja lima tahun. Bayangkan penderitaan kami?
Aku mengeluh ya? Sayangnya aku sudah terlanjur mencintai profesi ini. Aku dan Rav rajin mengikuti sayembara-sayembara arsitektur. Dari lima sayembara, kami setidaknya pernah menang dua kali. Satu desain untuk sekolah berasrama di kota mandiri dan satu desain lainnya sebuah Hotel di Yogyakarta. Itu semua cukup untuk kami masing-masing membeli satu unit mobil. Setelah itu kami akan pontang panting mencari proyek kacung dan tunduk pada klien demi uang.
Hanya masalah waktu profesi Arsitek lebih dihargai di bumi Indonesia ini. Semoga undang-undang profesi Arsitek segera menjadi nyata, setidaknya aku dan Rav nggak ngoyo banget cari proyek tambahan. Tapi ada baiknya juga sih, aku bisa begadang-begadang berdua Rav. Ada alasan buat dekat-dekat dia. Ampun, aku ini berharap banget ya?
Aku dan Rav itu partner. Dan aku berharap bisa menjadi partnernya seumur hidup. Jadi istrinya dong? Duuh, kepalaku harus digetok nih, mimpi ketinggian.
”Del, elo kalau kebanyakan bengong mending balik deh. Tidur..” Rav menatapku dibalik kacamata minusnya yang dia pakai kalau sedang menggambar.
Sebenarnya dia lebih ganteng dengan kacamatanya itu, terlihat jenius. Cuma Rav nggak suka, katanya mengurangi kegantengannya. Ciihh, dasar. Sehari-hari Rav lebih suka tidak memakai kacamatanya.
“Rav, gue bengong dikit elo ngomel, mirip emak gue aja..” aku memonyongkan bibirku.
“Del, elo butuh tidur. Berapa hari elo begadang di kantor?”
“Tiga hari. Proyek Bizz TV bikin gue ancur-ancuran…” aku menguap.
“Gue tidur bentar ya..” dan aku membenamkan kepalaku di sofa coklat hasil desainku sendiri.
Rav hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas.

********

Mencintai seorang Rav itu sangat mudah. Satu, dia humoris, dua, dia pintar, tiga, dia perhatian, empat, dia ganteng, lima, dia segalanya buat aku. Standar ya? Nggak, Rav di atas rata-rata, dia bukan lelaki standar yang banyak ditemui. Punya wajah ganteng tapi nggak punya pacar, itu keanehan dari Rav. Nggak , dia buka gay, dia seratus persen straight. Aku bisa menjaminnya. Hanya saja Rav punya kriteria pacar yang luar biasa susah, kata aku sih. Gimana nggak susah, Rav pengen punya pacar orang Jawa tulen, nggak mau ada darah campuran apa pun. Jawa tok.
Aku bukan orang Jawa. Itu yang menyedihkan, aku asli Sunda dan Minang, perpaduan yang jauh dari Jawa. Jelas aku sudah dicoret dari daftar kriteria pacar Rav, aku tidak mungkin jadi pacarnya. Sampai aku berdandan ala Miss Universe pun, Rav tidak akan mungkin memilihku, melirikku pun dia sudah pasti tidak mau. Jadi aku hanya bisa mencintainya sendiri, tanpa pernah ada sambutan dari Rav.
Kadang kalau ada perempuan cantik dengan warna kulit kuning langsat, dia akan menyuruhku bertanya, “orang mana?”, bikin males nggak sih? Kayak kurang kerjaan aja aku nanya-nanya itu perempuan asli orang mana. Satu hal yang aku benci dari seorang Rav, sukuismenya sangat tinggi. Menyebalkan.
Seperti hari ini, aku dan Rav makan siang bareng. Kantor kami hanya beda gedung, aku di BNI 46, Rav di MidPlaza. Kami makan siang di Plaza Semanggi. Rav lebih suka makan di Mall, katanya biar banyak ikan di laut. Mau mancing kali? Aku sih ngangguk-ngangguk saja selama dia mentraktirku.
Rav ribut terus menyuruhku mendekati seorang perempuan. Cantik sih, ayu gitu, tapi belahan dadanya bikin aku ngelus dada sendiri. Aku tidak bergeming.
“Oh, come on, Del. Cuma nanya namanya aja sama orang mana kok..”
“Ogah..” aku melirik malas.
“Payah lo…” Rav menyuapkan udang goreng ke mulutnya.
“Rav, elo yang payah. Tanya sendiri gih..”
“Ogah. Elo tahu sendiri kan tiap gue nanya satu cewek, besoknya udah bertingkah kayak pacar gue. Rav, dimana? Udah makan blom? Tidurnya nyenyak nggak? Please…” Rav mengerutkan keningnya tidak suka.
Aku hanya bisa tertawa. Kasihan sih kalau lihat keadaan dia yang digempur perempuan-perempuan itu, mereka selalu bersikap Rav itu sudah jadi milik mereka. Rav sering tidak tahan, gimana nggak pusing, tiap menit ponselnya akan berbunyi, puluhan SMS dan misscalled akan mampir ke ponselnya. Dan aku harus menyortirnya, seakan-akan aku sekretaris pribadinya. Tapi dengan hanya menjadi sahabat sekaligus sekretarisnya itu, Rav bisa menjadi milikku. Walau tidak menjadi pacarnya, aku sudah puas dengan keadaanku. Setidaknya Rav percaya padaku.
“Heh, malah bengong. Ayoooo…” Rav semakin memaksa. Aku menghela nafas panjang, dan melirik perempuan yang dadanya kemana-mana itu. Perempuan itu melihatku dan Rav, senyumnya dikulum. Sueerr deh, kalau nggak ada Rav sudah aku tendang-tendang itu perempuan.
“Are you sure?” aku memberi kode tangan di dadaku. Rav malah tertawa keras.
“Hey, laki-laki normal pasti suka…” Rav tersengal, aku menginjak kakinya dengan gemas.
“Rav..”
“Asal dia Jawa, gue pacarin…” Rav menatapku dengan serius. See? Apa pun, siapa pun, asal Jawa.
“Rav, pacarin aja si mbok yang kerja di rumah. Jawa kan?” aku berkata asal.
Rav langsung cemberut, tangannya langsung menarik tubuhku.
“Cepet, ntar itu cewek keburu pergi…”
Aku menyerah kalah, dengan setengah terpaksa aku berdiri dari dudukku, menghampiri perempuan berdada besar itu. Ohh, God! Rav harus mentraktirku makan malam nanti.
“Hai, nama? Asli mana?” aku bertanya dengan cepat. Perempuan itu bengong menatapku, kemudian matanya lari melihat Rav yang sedang pura-pura sibuk dengan gadgetnya. Sial.
“Vira. Asli apaan?”
Duuh, toket aja besar, otaknya seupil.
“Orang mana maksudnya..”
“Ohhh…” Vira tertawa sok imut, aku ingin menerkamnya.
“Jakarta..”
“Betawi gitu?”
“Hah?” dia menatapku dengan bego.
“Suku, kebangsaan, warga negara..”
Tawa Vira pecah berderai.
“Temen lo itu lucu ya? Nanyanya sampe detail banget..”
Aku memutar mataku, memaksakan senyum dibibirku.
“Gue Jawa…”
Hatiku mencelos.
“Jawa Manado…” senyumnya mengembang, rambutnya dikibaskan bagai iklan shampo, dadanya makin kelihatan kemana-mana, matanya menatap genit pada Rav. Aku langsung pergi.
Rav menatapku penuh harapan.
“Jawa Manado..”
Rav langsung manyun.
“Rav, kalau pun dia Jawa, gue rasa dia bukan perempuan baik-baik..”
“Jangan sok tahu.”
“Dadanya kemana-mana gitu…”
“Jangan sok tahu..” Rav berdiri, aku bingung melihat sikapnya.
“Hey, belom bayar..” aku sedikit berteriak, Rav mengabaikanku. Dia mendekati Vira. Itu seperti nonton film horror. Belum pernah Rav mendekati perempuan lain sejak kejadian Sasha enam bulan yang lalu. Jangan lagi.
Rav mengulurkan tangannya pada Vira, mereka bercakap-cakap sebentar, saling mencatat nomor ponsel masing-masing. Vira berdiri bersama temannya, mengambil tas di kursi. Senyumnya mengembang, entah apa yang diucapkan Rav. Vira berlalu sambil tangannya memberi tanda “call me” pada Rav. Rese.
Aku diam saat Rav kembali ke meja kami. Senyum-senyum nggak jelas.
“She’s hot. Right?” Rav nyengir lebar.
“Vulgar..” aku berkata dengan sarkas.
“Hot nggak vulgar..” Rav tertawa kesenangan, aku menimpuknya dengan bantal sofa.
“Jangan bikin gue memuntahkan makan siang gue di sini ya Rav..”
“Kenapa sih? Dia oke banget..” Rav menggambarkan bentuk tubuh perempuan dengan tangannya. Aku memandangnya dengan jijik.
“Terserah lo deh, tapi inget ya gue nggak mau menyelamatkan lo dari si toket ini kalau sampe ganggu tidur lo, kerja lo, makan lo, hobby lo, dan hidup lo…” aku memberi tekanan pada setiap kata yang aku ucapkan pada Rav.
“Oke. Yang penting, she’s mine..”
Hampir saja aku menjatuhkan gelasku.
“Selera lo ya…” aku mendengus, pura-pura melengos. Padahal hatiku sakit bukan kepalang saat mendengar kata-kata “She’s mine”. Bisa-bisanya Rav mengatakan semua itu dengan gamblang? Oh, iya aku lupa, aku kan cuma sahabatnya, tidak lebih.

**********