“Love what you have, before life teaches you to love what you lost…”
Kalimat yang cukup memukul ya? Sarat akan makna. Kalimat ini gue baca di timeline twitternya Ika Natassa. Iyess, penulis kece Indonesia favorite gue. Di atas kalimat ini ada ceritanya lho, gue ceritain ya..tapi siapin tissue sekotak, kali aja jadi nangis bombay pas baca. Karena berhubung ceritanya dalam english version, gue terjemahin sebisa gue aja ya….dan sedikit karangan indah.
Jadi gini ceritanya, ada pasangan muda mudi, bayangin yang cakep-cakep oke? Yang cowok kembarannya Keenan Pearce, yang cewek titisannya Raisa Adrianna. Lho bukannya itu pasangan paling okenya seleb indo ya? Ya udah pokoknya dua orang itu kece badai, wajah bayangkan masing-masing.
This is the story…
Sebut saja Mawar..hmmm kayak nama samaran di berita-berita kriminal nggak sih? Ganti aja ya, rada gimana gitu kalau dibaca. Okeh, jadi ceritanya ada seorang cewek bernama Raisa (teteuupp) hari itu dia ulang tahun yang ke sekian (dilarang menyebut usia, pamali). Hari ulang tahun udah pasti hari yang paling spesial buat semua orang, pastinya berharap dapet sesuatu yang spesial juga dong, terutama dari orang tersayang. Begitu juga dengan Raisa yang berharap dapat sesuatu yang super spesial, nggak pake KW. Ekspektasinya pasti udah tinggi aja, berharap dapet Jaguar gitu. Ahh, itu elo aja Ris! Hehe..back to Raisa.
Raisa udah berbinar-binar bahagia saat Keenan, sang pacar memberinya kado. Duhh, apa ya? Dari bentuk bungkusnya aja udah cute banget. Pikirannya udah kemana-mana. Apa kalung, atau cincin ya? Dari kotaknya sih terlalu besar untuk kedua perhiasan itu, kecuali komplit sama tiaranya. Princess kali ahh. Yah, namanya cewek kalo udah ngarep suka gak nanggung-nanggung. Kalo perlu berlian Harry Winston yang memiliki motto ‘once upon a time, the princess became a queen’ aja dikhayalin, dan berlian solitairenya yang segede tutup botol dipengenin juga. Ya elo kira pacar lo milyuner? Tapi amiinn, someday ya…uhuk kode.
Raisa membuka kado dari Keenan dengan antusias. Wajah Keenan sama antusiasnya, berharap Raisa menyukai hadiahnya. Saling ngarep dan saling deg-degan. Nah, tebak apa kadonya? Berlian? Kalung emas? Atau Jam tangan Rolex? Tetoott! Salah semua! Ternyata boneka teddy bear yang unyu banget dengan lambang hati berwarna merah. Raisa terbelalak. What? Cuma boneka? Hello? Era millenium aja udah lewat! Yang cute-cute is soo last year. Uuhh, please. Hati Raisa menjerit gemas.
Raisa terdiam lama. Marah, kesal, dan malu campur jadi satu. Jadi ini kado spesial dari Keenan? Cuma boneka? Kok cuma ini? Kok Keenan nggak sayang aku? Kok Keenan nggak menghargai aku? Raisa mau nangis rasanya (Padahal jelas-jelas ada lope-lopenya, jeung Raisa ini suka nuduh deh).
Keenan menyadari raut muka Raisa yang warnanya amburadul, mejikuhibiniu. Tapi banyakan warna merah keunguannya. Wah, Raisa marah nih. Keenan udah siap-siap mau pidato alias merayu biar Raisa nggak ngambek.
“Sayang, honey, baby?”
Raisa masih cemberut, menahan tangis.
“Kamu nggak suka kadonya?” suara Keenan bergetar. Dia sedih banget lihat ekspresi Raisa yang berubah dari happy jadi manyun to the max.
Raisa menghela nafas panjang, menimbang-nimbang teddy bear itu dengan wajah tidak suka. Ini cocoknya buat ponakan gue Keenan, bukan buat gue. Raisa jadi sakit hati sendiri. Dia pikir Keenan akan memberinya sesuatu yang spesial, sesuatu yang Raisa banget. Tahu deh apaan, yang penting bukan teddy bear ini.
“Raisa, ngomong dong sayang..”
“Iya. Aku nggak suka. Hadiah apaan ini? Aku kan bukan anak kecil yang cuma dikasih boneka terus happy!” karena kesal dengan sekuat tenaga Raisa melempar boneka teddy bear unyu itu ke tengah jalan.
(Ummh, maaf settingnya emang di pinggir jalan. Jadi harap dimaklumi, dari sononya)
“Raisa!” Keenan menatap Raisa dengan raut wajah kecewa, detik berikutnya Keenan lari menghampiri boneka teddy bear yang malang itu.
Dan yah, malang tidak bisa dihindari. Tiba-tiba saja Keenan tertabrak sebuah sedan hitam yang melaju kencang, badannya langsung terpental jatuh dan teddy bearnya terlempar entah kemana. Raisa terpana melihat kejadian itu. Dia shock.
“Keenan!” Raisa menjerit histeris. Dia langsung berlari memeluk Keenan yang terbaring tak berdaya di jalan. Darah mengalir di pelipis Keenan. Raisa panik melihat darah yang semakin banyak.
“Keenan, Keenan!”
Dengan cepat Keenan ditolong oleh orang-orang yang berada di sekitar situ dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Dengan kekalutan dan kepanikan yang luar biasa Raisa menemani Keenan ke rumah sakit. Dia berharap Keenan bisa diselamatkan. Pokoknya Keenan harus selamat, Raisa nggak mau kehilangan Keenan.
Di rumah sakit Keenan dinyatakan meninggal. Raisa nggak bisa ngomong apa-apa, rasanya dia mau mati saja. Dia terpukul sekali. Dadanya terasa sesak. Kenapa dia bertingkah konyol seperti itu sampai membuat Keenan meninggal dunia dan meninggalkannya? Kenapa? Kenapa? Sejuta kenapa ada di kepala Raisa. Di saat Raisa sedang menyesali sikap kekanakannya, seorang polisi menghampirinya.
“Ini punya kamu?”
Teddy bear itu! Raisa mengangguk, dengan cepat diraihnya boneka itu dan dipeluknya erat-erat. Air matanya mengalir deras. Ahh, Keenan maafkan aku..Raisa memeluknya semakin erat.
“Will you marry me?”
Raisa tersentak. Dipeluknya lagi teddy bear itu erat-erat. “Will you marry me?”
Teddy bear itu bisa ngomong! Raisa kaget luar biasa, teddy bear itu terjatuh dari tangannya begitu saja. Dan sesuatu menggelinding. Sebuah cincin. Dengan tangan yang bergetar hebat Raisa meraihnya, dan membaca ukiran di cincin tersebut. KR. Inisial nama mereka berdua.
Speechless…mati rasa…
Di saat Keenan dimakamkan, Raisa hanya bisa memeluk teddy bearnya, dan mendengar berulang-ulang rekaman itu. Air matanya tidak bisa berhenti turun. Dia udah kehilangan Keenan, kehilangan cintanya. If only turn back time….Raisa nggak akan bertingkah semenyebalkan itu, dia akan berteriak kesenangan dan memeluk hadiah dari Keenan dengan sukacita. Dan segala harapannya tentang Keenan akan menjadi kenyataan. Tapi sekarang yang tersisa dari Keenan hanya teddy bear yang sedang dipeluknya. Ahh, if only….

Moral of the story, jangan ngasih kado di pinggir jalan. Hahaha, joking.
Yess, expect too much itu nggak baik. Harusnya Raisa akting seneng dulu ya? Karena ternyata di dalam hati teddy bearnya ada surprise yang jauh di atas ekspektasinya Raisa.
Gue waktu baca ceritanya ampe nangis lho..maaf ya kalo gue ceritanya gak sesedih aslinya. Tragis banget…kado yang dulu dibencinya sekarang jadi benda kesayangannya Raisa. Nyesek nggak sih?
Yah ceritanya Raisa dan Keenan cuma salah satu contoh aja siihh…
Intinya sih, bukan cuma soal ekspektasi aja. Tapi kita harus bener-bener bisa menghargai dan mencintai apa yang dikasih dan apa yang dipunya. Dan kita nggak pernah tau umur kita sampe dimana, kita nggak pernah tau orang-orang yang dekat sama kita diberi umur sampe berapa. Mulai sekarang kita harus bisa menerima dengan apa yang ada pada diri kita sendiri. Jangan sampai kita menginginkan sesuatu tapi malah menyakiti seseorang yang kita sayang.
Mengharapkan sesuatu dari orang tersayang boleh banget, kecewa juga boleh banget. Tapi kadang kala realitas dan impian itu nggak bisa sama-sama langsung terwujud. Mulai sekarang yuk hargai pemberian dari orang lain, apalagi dari orang tercinta. Kalau nggak sesuai, ya dinikmati aja, siapa tahu ntar-ntar bisa terwujud. Yang penting selalu berpikiran positif. Seperti apa yang Allah SWT kasih sama kita, baik buruknya itu sudah aturanNya. kita harus ingat yang menurut kita baik atau bagus belum tentu baik di mata Allah, begitu pun sebaliknya yang buruk atau jelek menurut kita, itu adalah yang terbaik di mata Allah bagi kita.
Dan yang terpenting..selalu bilang sayang sama orang-orang yang kita cinta. Orang tua, suami, istri, anak, adik, kakak, sahabat, dll. Karena kita nggak pernah tahu…. .

Sincerily,
Yuris Afrizal